Bungkus Luka di Balik Kepastian Palsu: Sebuah Renungan tentang Konsistensi dan Kejujuran

Oleh: Juwaini Husen

Foto: Juwaini Husen (2/5) 

ACEH,REAKSINEWS.ID | Di tengah hiruk-pikuk zaman, banyak suara berlomba-lomba menciptakan gelombang. Namun, tak semua bicara bermuara pada makna. Orang yang bingung tak selalu diam. Justru, mereka kerap paling lantang. Kata-katanya berputar seperti angin di gang sempit—tak tentu arah. 


Hari ini menyalahkan, esok membenarkan. Barusan mengaku sapi, sebentar lagi babi. Bukan karena berani berubah, tetapi karena tak tahu harus menjadi apa. Bahkan menjadi monyet pun terasa tak pas.

Inkonsistensi bukan sekadar persoalan logika, melainkan refleksi dari hati yang ragu. Ketika seseorang tidak percaya pada dirinya sendiri, ia berbicara seperti menebak isi kepala orang lain. Ia takut salah posisi, takut tidak disukai, takut ketinggalan gelombang. Maka ia berdiri di semua tempat—dan tenggelam di semuanya.

Kebingungan bukan dosa. Namun, membungkusnya dengan kepastian palsu adalah luka. Luka yang menyakiti bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga mereka yang mencoba percaya. Kata-kata yang seharusnya menjadi pegangan berubah licin seperti bayangan.

Kita hidup di era kebisingan, di mana opini berhamburan tanpa kendali. Banyak yang ingin bicara sebelum sempat berpikir. Maka, yang paling sunyi kadang justru yang paling tahu arah. Mereka yang jarang bersuara, namun setiap kata yang diucapkan bagai paku yang menancap di kayu kebenaran.

Mereka paham bahwa konsistensi bukanlah kekakuan, melainkan kejujuran pada nilai yang tak berubah, meski dunia terus bergeser.

Aceh, 2 April 2025
Juwaini Husen

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak